"Torpedo dan Ranjau: Kekuatan Tempur Whiskey-Class"
Senjata utama kapal selam kelas Whiskey adalah 6 unit
tabung peluncur torpedo 21 inci yang berada di haluan dan buritan. Kapal
selam ini juga bisa membawa 12 torpedo 533 mm atau 22 ranjau.
SUT Torpedo 533 mm
SUT Torpedo 533 mm merupakan torpedo kelas berat yang
dirancang untuk berbagai platform TNI AL. Meskipun jumlah produksi pastinya
tidak diketahui, diperkirakan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah memproduksi
lebih dari seratus unit. Torpedo ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kapal
selam Type 209, tetapi juga dirancang untuk Kapal Cepat Torpedo (KCT) FPB-57.
Setiap KCT FPB-57 mampu membawa dua torpedo tanpa kemampuan isi ulang. Selain
itu, kapal selam Changbogo Class juga direncanakan menggunakan torpedo jenis
ini.
Torpedo ini memiliki bobot yang besar, dengan panjang lebih
dari enam meter dan berat sekitar 1,4 ton untuk varian perang. Berat tersebut
termasuk hulu ledak seberat 225 kg, yang cukup untuk menenggelamkan kapal
frigat. PT DI memproduksi dua varian SUT Torpedo, yaitu varian latihan dan
varian perang. Varian latihan memiliki baterai yang dapat diisi ulang hingga
10–15 kali penggunaan, sehingga memperpanjang masa pakainya.
Dirancang sejak tahun 1967, torpedo ini memiliki panjang
6.620 mm dengan kasket dan 6.150 mm tanpa kasket. Berat torpedo varian perang
mencapai 1.414 kg, sementara varian latihan berbobot 1.224 kg. Torpedo ini
mampu menjangkau jarak hingga 38 km dengan kedalaman operasional lebih dari 100
meter.
SUT Torpedo digerakkan oleh motor listrik dengan daya dorong
mencapai kecepatan 35 knots untuk jarak pendek (sekitar 12 km). Namun,
kecepatannya menurun menjadi 23 knots untuk jarak hingga 28 km. Sistem pemandu
torpedo ini menggunakan sonar aktif dan pasif, yang memberikan tingkat
kebisingan rendah untuk mendukung operasinya. Sumber energinya berasal dari
baterai silver-zinc yang dirancang untuk efisiensi tinggi.
Spesifikasi Teknis SUT Torpedo 533 mm:
- Tipe:
Heavyweight Torpedo
- Diameter:
533 mm
- Panjang
dengan kasket: 6.620 mm
- Panjang
tanpa kasket: 6.150 mm
- Berat
varian perang: 1.414 kg
- Berat
varian latihan: 1.224 kg
- Jarak
operasional maksimum: 38 km
- Kecepatan/
jarak: 35 knots/24.000 yard; 23 knots/56.000 yard
- Hulu
ledak: 225 kg
- Kedalaman maksimum: >100
Ranjau laut adalah alat peledak bawah air yang dirancang
untuk merusak atau menghancurkan kapal dan kapal selam. Tidak seperti bom laut
yang langsung meledak, ranjau ini diletakkan di lokasi tertentu dan akan aktif
hanya jika dipicu oleh keberadaan kapal musuh di sekitarnya. Ranjau laut bisa
digunakan secara ofensif, misalnya dengan menempatkannya di jalur kapal lawan
atau pelabuhan musuh, maupun secara defensif untuk menciptakan zona aman guna
melindungi kapal-kapal sekutu.
Penyebaran ranjau laut dapat dilakukan melalui berbagai
cara, seperti dari kapal, kapal selam, pesawat, atau bahkan secara manual dari
daratan. Harganya beragam, mulai dari yang murah dengan kisaran ribuan dolar AS
hingga versi canggih bernilai jutaan dolar AS, yang dilengkapi sensor-sensor
mutakhir dan mampu menembakkan hulu ledak menggunakan torpedo atau roket.
Faktor biaya yang rendah dan fleksibilitas penggunaannya
menjadikan ranjau laut sebagai pilihan senjata yang ideal dalam perang
asimetris. Biaya pembuatannya biasanya hanya berkisar antara 0,5% hingga 10%
dari total biaya yang diperlukan untuk menghilangkannya. Hingga saat ini,
banyak area yang masih dipenuhi ranjau sisa Perang Dunia II karena luasnya area
sebaran dan tingginya biaya pembersihan. Secara teori, beberapa ranjau dapat
tetap aktif dan berfungsi hingga ratusan tahun setelah ditempatkan.
Hukum internasional mewajibkan negara-negara yang
menempatkan ranjau untuk memberikan peringatan agar kapal sipil dapat
menghindari wilayah tersebut. Namun, peringatan ini tidak harus terlalu
spesifik. Sebagai contoh, selama Perang Dunia II, Britania Raya hanya
menyatakan secara umum bahwa ranjau telah disebar di Selat Inggris, Laut Utara,
dan sepanjang pantai Prancis.




Komentar
Posting Komentar