"Dari Perang ke Monumen: Kisah KRI Pasopati dan Pembangunan Monkasel Surabaya"
Drajat Budiyanto kemudian diberikan tugas untuk menampilkan kapal selam tersebut di Surabaya Plaza. Untuk mewujudkan hal ini, KRI Pasopati 410 dibagi menjadi 16 bagian, yang kemudian dirakit kembali di PT PAL Indonesia, sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi Monumen Kapal Selam dan dirakit ulang hingga membentuk kapal selam utuh.
KRI Pasopati 410 telah beroperasi sejak tahun 1962, dengan tugas utama seperti menghancurkan kapal musuh (Anti-shipping), melakukan pengintaian, serta melaksanakan serangan diam-diam (Silent Raid).
Pada 26 Januari 1990, kapal ini dinonaktifkan oleh TNI Angkatan Laut dan diubah menjadi Monumen Kapal Selam sebagai penghormatan terhadap perjuangan Operasi Trikora, operasi militer Indonesia yang bertujuan mengusir pendudukan Belanda di Irian Barat (Papua). Pembangunan Monkasel dimulai pada 1 Juli 1995 dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jawa Timur, Basofi Sudirman, dan Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur, Laksamana Muda (Laksda) TNI Gofar Soewarno.
Tiga tahun setelahnya, Monumen ini diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Arief Kushariadi, pada 27 Juni 1998, dan dibuka untuk umum pada 15 Juli 1998. Saat ini, Monkasel menjadi monumen kapal selam terbesar di Asia, dengan pengelolaan yang berada di bawah TNI Angkatan Laut dan dikelola oleh Pusat Koperasi Angkatan Laut.



Komentar
Posting Komentar